sweetie alessa’s blog

~ ikhlas dan bersabarlah…. ~

ti amo (aku cinta) ~2~

Tepat pada hari yang kami tentukan, Alex dan Fafa sudah menungguku di depan penginapan. Mereka mengenakan pakaian yang hampir sama, jeans biru dan sweater berwarna cerah yang membalut badan mereka ketat. Fafa tak melepaskan sun glasses yang menutupi matanya. Ia melambaikan tangan saat kami melangkah turun dengan setengah berlari.
“Tak usah terburu-buru. Kita akan tiba tepat waktu.” ujar Alex saat aku tiba dengan nafas turun naik. Lumayan kalut, plus berdebar-debar! Ida tersenyum kecil dan itu membuatku senewen. Kacau, kenapa justru aku yang merasa panik?
Fafa mengambil tempat di belakang kemudi bersisian dengan Alex, sementara aku dan Ida duduk tenang di belakang. Kami berpandangan sambil tersenyum simpul.
“Katanya kawan-kawanmu akan ikut, Alex.” tukas Ida seakan tersadar bahwa sedari tadi tak ada orang lain. Hanya kami berempat.
“Seperti yang kau lihat. Hanya kakak tersayang pendamping setiaku.” jawabnya diplomatis. Huh, bohong!
“Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali bertemu mereka.” keluhnya tertahan. Aku menggigit bibir menahan tawa. Lihat saja bagaimana kau akan “tergeletak” nanti, sobat.
“Hei, kok diam … memikirkan apa nona cantik?” Ia menyenggol lenganku sambil mengangkat alis turun naik. Menggoda, barangkali …
“Ah, tidak apa-apa.” elakku halus.
“Apa selama ini dia selalu banyak bicara?” lanjut Alex sambil memiringkan tubuhnya agar dapat melihat kami. Aku memberi isyarat agar Ida tak berkomentar banyak atas pertanyaannya. Tapi aku keliru, karena sobatku itu sepertinya antusias sekali.
“Sangat! Terlebih untuk segala hal yang menyangkut dirimu. Dia bisa jadi berapi-api dan penuh semangat ’45!”
“What? Semangat apa?”
Ups! Ia tak akan mengerti dengan istilah “nasionalisme” kami itu.
“Forget it, Alex! Aku memang banyak bicara kalau ada hal-hal yang memerlukan perhatian khusus.” potongku sebelum Ida membuka mulut untuk menjelaskannya panjang lebar. Ia menatapku tajam.
“Kau selalu membuatnya bingung.” tegurnya keras. Matanya menatapku tajam seakan memaksaku untuk mendengarkannya.
“Aku tidak mengerti…” balasku tak kalah keras. Kali ini Ida menarik nafas panjang. Wah, pasti hal yang serius nih, pikirku tiba-tiba.
“Dengar ya … bagaimana Alex bisa berkata jujur kalau kau terus menerus mem-back up nya. Kau kan juga ingin tau ada masalah apa sampai-sampai Alex terikat dengan dua gadis yang sama-sama cantik dan sama-sama bernama Sonia. Iya ‘kan Fano?” rutuknya pelan. Fafa tertawa, mungkin karena mendengar kata-kata terakhir Ida. Tak urung aku dan Alexpun ikut tertawa … walau sedikit hambar.
“I’m sorry, pal. Aku tidak bermaksud seperti itu. Yah, setidaknya timbulkanlah kesan yang baik di awal perjumpaan kita. Kalau Alex memutuskan untuk menyimpan cerita tentang masalah pribadinya, aku setuju. Tidak semua hal bisa menjadi lebih baik dengan kita mengumbarnya ke publik. Oke?!” Ida mengangkat bahu. Kuharap ia mengerti karena aku tak ingin ada masalah yang timbul selama kami disini. Tak berapa lama Fafa menghentikan kendaraannya disebuah cafe yang letaknya sedikit terasing dari keramaian kota.

“Wow …” hampir berbarengan aku dan Ida berdecak kagum melihat bangunan yang bercita rasa tinggi itu. Setiap sudutnya nampak elegan karena cahaya merah senja membias bersama sinar-sinar lampu yang mulai menyala. Tak kusangka mereka akan memilih tempat seromantis ini. Kami melangkah berbarengan sementara beberapa pasangan muda menatap keheranan. Untunglah mereka tak berusaha menyerbu Alex, walau ada satu dua orang yang melemparkan senyum, sekedar menyapa. Aku mengamati sekeliling. Hm … setiap meja dibatasi oleh dinding kayu berukir hingga tak ada yang akan merasa terganggu privacy-nya. Ida menarik lenganku saat dua sosok tubuh melambai di sudut ruangan. Aku tersenyum dan menepuk-nepuk bahunya lembut. Mereka sudah disana …
“Kami tidak terlambat, bukan?” Alex melirik arlojinya sekilas lalu menarik kursi untukku, sementara Fafa melakukan hal yang sama pada Ida.
”Apa kabar? Senang melihatmu lagi.”
Pippo mengulurkan tangan kearahku seraya tersenyum kecil. Aku menyambutnya dengan senyum yang mengembang, sementara Ida … wah, tampaknya ia masih terkejut dengan “keakraban” kami.
“Baik. Apa kabar, Bobo?” sahutku antusias.
“Aku … ? Sama seperti yang kau rasakan pada pangeranmu.” selorohnya yang langsung diikuti oleh gelak tawa kami berlima. Bergantian Bobo dan Pippo mengucapkan salam pada Ida. Tampaknya gadis ini sudah bisa lebih santai.
“Kalian sudah bertemu sebelumnya, ya?”
Aku tergagap. Kacau ….
“Kujelaskan nanti, teman. Sekarang kau tidak penasaran lagi, kan?” elakku ringan. Ida tertawa, ia mengamati wajah-wajah pemuda itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sejurus kemudian ia memberikan satu kecupan di pipiku.
“Ini benar-benar indah …” ujarnya.
“With my pleasure … enjoy this time, dude.” balasku dengan penuh rasa haru. Entahlah, aku sendiri merasa melayang berada diantara para Italiano ini.
“Sudahlah … aku jadi ingin menangis. Sekarang ceritakan tentang hal-hal menarik di negara kalian.” todong Bobo cepat. Aku dan Ida saling pandang.
“Ah, kalau kau hanya mendengar ceritanya, tidak akan seru Mr. Giant! Datanglah bersama pasanganmu saat liburan dan nikmati pantai-pantai indah yang kami miliki.” ucapan Ida membuat Bobo ternganga.
“Mr. Giant? Separah itukah aku?” cetusnya dengan mimik serius.
“Ya … terimalah keadaanmu dengan besar hati, Bobo.” sambung Alex sambil menepuk-nepuk bahunya. Lihatlah betapa mereka begitu dekat malam ini, gumanku lirih pada Ida. Ia mengejapkan mata, mengiyakan …
Tiba-tiba Pippo mengulurkan sebuah bungkusan persegi lumayan besar padaku.
“Tolong sampaikan ini pada Evelynne. Aku berterima kasih atas segala perhatiannya, dan kuharap ia tidak kecewa atas sikapku belakangan ini.” tuturnya pelan. Tanganku sedikit bergetar saat menerima benda itu. Tak dapat kubayangkan reaksinya bila tahu siapa yang menyerahkan bingkisan ini. Ida terpana …
Jujur, aku iri pada Evelynne, dan mungkin Idapun merasakan hal yang sama.
“Pippo, aku tidak tahu bagaimana merangkai kata-kata yang tepat, tapi tulus … aku bersimpati pada keadaanmu.” kataku lirih. Pippo tersenyum, ia menatap bergantian pada sahabat-sahabatnya.
“Semua akan baik-baik saja. Itu karena aku memiliki mereka …”
Suasana menjadi hening beberapa saat. Andai tak ada aku dan Ida, barangkali Alex sudah merangkul Pippo erat-erat karena kulihat matanya sedikit berkilat.
“Hei, tak ada yang ingin memesan sesuatu?” ujar Bobo memecah kebisuan. Ia mulai memeriksa daftar menu, namun kedipan mata Fafa membuat ia meletakkan kembali buku kecil yang dipegangnya.
“Maaf ya, kami minta ijin sebentar. Fafa, kau ikut kami, atau ……” Fafa mengangguk cepat mendengar tawaran Alex. Lekas kuraih mantelku sebelum berbisik lirih pada Ida.
“Aku akan kembali secepatnya.”
Kutinggalkan Ida yang tak sempat bertanya apa-apa lagi. Aku, Alex dan Fafa memang keluar, tapi kami masuk kembali lewat pintu samping dan mengambil tempat tepat disisi kanan meja kami sebelumnya. Dan … tak ada yang tahu. Aku bisa mendengar jelas percakapan mereka, juga saat Alex menghubungi Pippo lewat ponselnya. Dengan alasan mencari sinyal yang bagus, Pippo meninggalkan Bobo dan Ida untuk bergabung bersama kami. Pertunjukkan segera dimulai dan seperti yang telah direncanakan, beberapa menit lagi Bobo akan minta ijin ke kamar kecil, lalu Ida, sahabatku itu akan seorang diri disana. Satu menit, dua menit … ah, Bobo mulai bicara tergesa-gesa. Hi…hi…hi… bisa kubayangkan betapa kalutnya wajah Ida. Tapi tenanglah, kau akan menyukai kejutan ini. Hei … itu dia!

to be continue…

November 17, 2008 - Posted by | Cerpen | , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: