sweetie alessa’s blog

~ ikhlas dan bersabarlah…. ~

Perkataan Bijak Beberapa Wanita Mulia

kupu-kupuPerkataan yang baik, jawaban yang bijak, dan spontanitas yang terarah dengan kandungan isi yang berbobot, makna yang mendalam, dan arti yang terukur, merupakan indikasi akal, kebijaksanaan, dan kecermatan seseorang. Di bawah ini adalah kumpulan perkataan dan sikap dari para wanita sahabat yang menunjukkan semua itu.

***

1. Khadijah binti Khuwailid

Sepulang menerima wahyu di goa Hira, Rasulullah SAW diliputi ketakutan dan kekhawatiran. Sampai di rumah, Rasulullah berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.” Khadijah menyelimutinya hingga beliau tenang. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah peristiwa yang baru saja dialaminya. Rasulullah berkata, “Aku takut terhadap diriku.” Khadijah menjawab, “Demi Allah, tidak akan, Allah tidak akan menghinakanmmu selamanya. Engkau menyambung silaturrahim, memikul kesulitan, membantu orang tidak berpunya, memuliakan tamu, dan membantu kesulitan dalam kebenaran.”

***

2. Aisyah binti Abu Bakar

Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana menurutmu apabila engkau singgah di sebuah lembah dimana di sana terdapat rerumputan yang telah dijamah oleh ternak gembalaan dan rerumputan yang belum dijamah. Di lembah manakah engkau melepas untamu?” Nabi SAW menjawab, “Di rerumputan yang belum dijamah.” Maksudnya adalah bahwa Rasulullah SAW tidak menikah dengan gadis selainnya.

***

3. Aisyah binti Thalhah

Al-Hasan bin Ali berkata kepada istrinya, Aisyah binti Thalhah, “Urusanmu berada di tanganmu.” Aisyah istrinya menjawab, “Selama dua puluh tahun ia berada di tanganmu. Kamu menjaganya dengan baik. Ketika ia berada di tanganku, maka aku tidak menyia-nyiakannya sesaat pun dan aku telah memberikannya kepadamu.” Al-Hasan mengagumi jawabannya dan tidak menceraikannya.

***

4. Asma’ binti Yazid Al-Asyhaliyyah

Asma’ binti Yazid mendatangi Rasulullah SAW, sementara beliau di antara para sahabatnya. Asma’ berkata, “Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu, ya Rasulullah. Saya adalah utusan para wanita kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada seluruh laki-laki dan wanita, maka mereka beriman kepadamu dan kepada Tuhanmu. Kami para wanita selalu dalam keterbatasan, sebagai penjaga rumah, tempat menyalurkan hasrat, dan mengandung anak-anak. Sementara kalian, kaum laki-laki, mengungguli kami dalam shalat Jum’at, shalat berjama’ah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berhaji setelah sebelumnya sudah berhaji, dan yang lebih utama adalah jihad fi sabilillah. Dan jika salah seorang dari kalian pergi haji atau umrah atau jihad, maka kamilah yang menjaga harta kalian, yang menenun pakaian kalian, yang mendidik anak-anak kalian. Bisakah kami menikmati pahala dan kebaikan ini sama seperti kalian?”Nabi SAW memandang para sahabat dengan seluruh wajahnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar ucapan seorang wanita yang lebih baik pertanyaannya tentang urusan agamanya daripada wanita ini?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, kami tidak pernah menyangka ada wanita yang bisa bertanya seperti dia.” Nabi SAW menengok kepadanya dan bersabda, “Pahamilah, wahai ibu, dan beritahu para wanita di belakangmu, bahwa ketaatan istri kepada suaminya, usahanya untuk memperoleh ridhanya, dan kepatuhannya terhadap keinginannya, menyamai semua itu.” Asma’ berlalu dengan wajah berseri-seri.

***

5. Asma’ binti Umais

Ali bin Abu Thalib menikahi Asma’ binti Umais RA. Kedua putranya, Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abu Bakar, saling membanggakan diri. Masing-masing berkata, “Aku lebih mulia darimu, bapakku lebih baik daripada bapakmu.” Ali berkata kepada Asma’, “Wahai Asma’, kamu yang menjadi pengadil di antara mereka berdua.” Asma’ berkata, “Aku tidak melihat pemuda Arab yang lebih baik daripada Ja’far, dan aku tidak melihat orangtua yang lebih baik daripada Abu Bakar.” Ali berkata, “Kamu tidak menyisakan sedikit pun bagi kami. Seandainya kamu berkata lain, niscaya aku akan memarahimu.” Asma’ berkata, “Sesungguhnya tiga orang dimana kamu adalah yang paling muda adalah orang-orang terpilih.”***

6. Asma’ binti Abu Bakar

Asma’ binti Abu Bakar RA mempunyai sepotong baju peninggalan Rasulullah SAW. Ketika Abdullah bin Az-Zubair terbunuh, baju itu pergi menghilang. Asma’ berkata, “Hilangnya baju itu lebih berat bagiku daripada terbunuhnya Abdullah.” Ternyata baju itu berada di tangan seseorang dari kota Syam, orang tersebut berkata, “Aku tidak akan mengembalikannya kecuali jika Asma’ memohonkan ampunan untukku.” Asma’ berkata, “Bagaimana aku memohon ampunan untuk pembunuh Abdullah.” Mereka berkata, “Dia bersedia mengembalikan baju itu.” Asma’ berkata, “Katakan kepadanya agar datang.” Lalu laki-laki itu datang dengan membawa bajunya diiringi Abdullah bin Urwah, cucu Asma’. Asma’ berkata, “Berikan baju itu kepada Abdullah.” Lalu dia memberikannya. Asma’ bertanya, “Wahai Abdullah, apakah bajunya sudah di tanganmu?” Abdullah menjawab, “Ya.” Asma’ berkata, “Semoga Allah mengampunimu, wahai Abdullah.” Maksud Asma’ adalah Abdullah bin Urwah cucunya, bukan laki-laki tersebut.

Asma’ binti Abu Bakar RA mempunyai sepotong baju peninggalan Rasulullah SAW. Ketika Abdullah bin Az-Zubair terbunuh, baju itu pergi menghilang. Asma’ berkata, Ternyata baju itu berada di tangan seseorang dari kota Syam, orang tersebut berkata, “Aku tidak akan mengembalikannya kecuali jika Asma’ memohonkan ampunan untukku.” Asma’ berkata, Mereka berkata, “Dia bersedia mengembalikan baju itu.” Asma’ berkata, Lalu laki-laki itu datang dengan membawa bajunya diiringi Abdullah bin Urwah, cucu Asma’. Asma’ berkata, Lalu dia memberikannya. Asma’ bertanya, Abdullah menjawab, “Ya.” Asma’ berkata, Maksud Asma’ adalah Abdullah bin Urwah cucunya, bukan laki-laki tersebut.

***

7. Ummu Ma’bad

Ummu Ma’bad adalah seorang wanita yang mana Rasulullah dan Abu Bakar pernah singgah minum padanya pada saat hijrah ke Madinah. Ummu Ma’bad berkata tentang Rasulullah SAW, “Aku melihat seorang laki-laki yang tampan, berbadan tegap, berwajah cerah, berkepala sedang, tidak besar tidak pula kecil, berakhlak mulia, berbudi pekerti baik, berbola mata hitam, bulu matanya panjang, bersuara sedikit serak, putih matanya sangat putih, hitam matanya sangat hitam, kedua alisnya melengkung dan hampir bertemu, lehernya panjang, jenggotnya lebat. Jika diam, dia diliputi oleh ketenangan. Jika dia berbicara, dia dinaungi oleh kewibawaan. Ucapannya manis, tegas, tidak pendek, tidak bertele-tele, kata-katanya seperti untaian mutiara yang tertata rapi. Dari jauh, dialah orang yang paling tampan dan menawan. Dari dekat, dialah orang yang paling manis dan baik, berbadan sedang, mata tidak mencelanya karena kepanjangan, dan mata tidak menjelekkannya karena kependekan, seperti dahan pohon di antara dua pohon yang pendek dan panjang, paling indah dipandang dari tiga, paling harum baunya. Dia memiliki teman-teman yang menghormatinya. Jika dia berbicara, mereka mendengar ucapannya. Jika dia memerintah, mereka berlomba-lomba melaksanakannya. Mereka berbondong-bondong membantu dan melayaninya, tidak bermuka masam dan tidak lemah pendapat.”

Referensi : Ar-Rahiq Al-Makhtum dan Adz-Dzakiyat, Qasim Asyur.

dikutip dari : kotasantri.com

November 24, 2008 - Posted by | Muslimah | , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: