sweetie alessa’s blog

~ ikhlas dan bersabarlah…. ~

Ketika Tiba Waktumu

tulip“Dari Abdullah bin Umar: Aku pernah mendatangi Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam sebagai orang kesepuluh dari sepuluh orang yang mendatangi beliau pada saat itu. Kemudian seseorang dari kaum Anshar berdiri dan bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah orang yang paling cerdik dan terkuat pendiriannya?” Beliau menjawab, “Orang yang terbanyak mengingat kematian dan yang terbanyak persiapan untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang paling cerdik di mana mereka berangkat dengan kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat” (HR Thabrani)

Rizki, jodoh dan kematian merupakan wilayah yang misterius bagi setiap manusia. Kematian merupakan sebuah kepastian yang tak mungkin terhindarkan bagi semua makhluk yang bernyawa. Kapan ajal menjemput, bukan menjadi domain kita sebagai makhluk. Menyiapkan bekal menyongsong kematian akan lebih produktif dibanding melakukan upaya-upaya lari dari kematian. Kematian sudah pasti akan datang. Melebihi pastinya kenaikan pangkat jabatan yang tinggal sehari. Melebihi pesta perkawinan yang tinggal nanti malam.

Banyak orang lalai menyiapkan sesuatu yang sudah pasti (kematian), namun mereka mati-matian menyiapkan sesuatu yang belum pasti. Banyak orang sibuk menyiapkan tabungan untuk hidup bahagia di hari tua. Padahal, tidak ada satu pun yang bisa memberikan kepastian, bahwa umurnya mencapai usia tua. Banyak orang sibuk menyiapkan masa depan anak-anak yang masih kecil-kecil bahkan yang belum lahir, dengan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, menyiapkan asuransi pendidikan, meembangun rumah dan lain sebagainya. Padahal, persiapan diri yang selalu dalam intaian malaikat maut yang pasti dan membutuhkan perhatian.

Betapa banyak kita saksikan orang tua jompo yang sudah tua rindu akan kematian, masih terus hidup dalam kepikunan. Namun, betapa banyak anak-anak muda belia yang masih ingin menikmati dan menghirup indahnya kehidupan dunia, berguguran karena Izrail datang tanpa permisi. Usia yang masih muda bukan jaminan kematian masih jauh. Usia renta bukan ukuran bahwa ajal tak lama lagi tiba. Semua ada ukurannya, semua sudah ada ketentuan dari dari-Nya.

Tidak ada benteng yang bisa dijadikan tempat persembunyian dari kematian. Tempat paling nyaman agar selamat saat kematian tiba adalah menjalani hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Tidakkah kita ingat, saat Ibrahim as memegang sebilah pedang tajam terhunus yang ujungnya telah menempel di leher Ismail as, kemudian pedang tersebut dihujamkan, dan darah mengalir dengan derasnya, namun Ismail as tetap segar bugar karena mendapat naungan dari-Nya, Sementara itu, betapa banyak orang yang berusaha lari dari kematian, namun justru mereka lari menuju kematian.

Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'”( Q.S. Al Jumu’ah: 8 )

Kematian. Kata itu menyiratkan sesuatu hal. Proses akhir keberadaan kita di dunia. Tahapan menuju ke alam selanjutnya, alam kubur. Proses menuju pertanggungjawaban akan eksistensi kita selama berada di kehidupan yang fana ini. Memang, meninggalkan duka bagi orang-orang terkasih. Namun, itulah kehidupan. Ada awal. Ada akhir. Ada kelahiran. Ada kematian. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya bagi kita. Kapan waktunya bagi saya. Kapan waktunya bagi Anda. Hanya Dia yang mengetahui, Sang Pemilik Jiwa kita. Dia hanya berpesan lewat firman-Nya. Termaktub dalam kitab suci Al-Quran. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, begitulah bunyi firman-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Imran ayat 185. “… ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun”, Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 34 juga memperkuat tentang hal ini. Yah, setiap jiwa yang hidup tentu akan merasakan proses itu. Ketika malaikat maut menjemput. Siapapun dia. Saya. Anda. Saudara-saudara kita. Saudari-saudari kita. Hewan. Tumbuhan. Siapapun itu yang berjiwa.

Ketika menuliskan ini, saya merenung. Sudah cukupkah bekal saya? Sudah siapkah saya, ketika berhadapan dengan sakaratul maut yang teramat sakit bahkan akan membuat kedua betis bertaut? Sudah siapkah saya, ketika sudah tiba saatnya bagi saya untuk meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini? Sudah siapkah saya, ketika malaikat maut menjemput saya? Semoga saya dan anda termasuk golongan orang-orang yang bertakwa dan selalu mendapatkan rahmat-Nya. Amin ya robbal ‘alamin….

~dari berbagai sumber~

January 13, 2009 - Posted by | Renungan | , , , ,

3 Comments »

  1. nice post…🙂

    Comment by Faisal Reza | January 27, 2009 | Reply

    • thx…🙂

      Comment by sweetiealessa | January 28, 2009 | Reply

  2. ehm.. su’ul khotimah or Husnul khotimah kmtian yg akn Qt hdapi dr skrg prsiapkn diri untk mghdpinya….

    Comment by tekur | April 18, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: