sweetie alessa’s blog

~ ikhlas dan bersabarlah…. ~

ti amo (aku cinta) ~3~

“Maaf, anda salah tempat rupanya …” Ida mendongak dan ia hampir terlempar dari kursi saat melihat pemilik suara berat tadi. Sesosok pria tinggi, berambut ikal panjang yang sedikit berminyak dengan kaos ketat abu-abu dan sweater yang diikatkan di bahu jenjangnya tiba-tiba saja sudah berdiri di ujung meja. Ia mengerutkan alis saat melihat wajah Ida yang pucat.
“Ada apa…? Anda sakit?”
Ida menggeleng cepat, tapi itu tetap tak bisa menyembunyikan bias putih di wajahnya.
“Mm..Mm..Maldini …?” ujarnya tergagap. Lelaki itu mengangguk.
“My God!” desisnya tak percaya,
“Aku tidak mengerti maksudmu, tapi ini meja kami … “ lanjutnya lagi masih dengan suara bergetar. Lelaki, yang ternyata salah satu bek kiri terbaik dunia saat ini mulai ikut-ikutan gelisah. Ia menengok kiri-kanan, mencari sesuatu.

“Hh… apa memang aku yang salah mendengar ya?” gumannya pelan penuh keragu-raguan.
“Maaf, apa ini nomor meja anda?”
Ida menyodorkan reserved number sambil tak henti-hentinya menatap mata indah Maldini. Dia benar-benar “cantik”
“Betul.”
Ida menghela nafas berat. Wah, tampaknya ia mulai bisa menerka “keganjilan” ini.
“Mungkin ini memang mejamu. Aku sendiri tak mengerti, mereka menghilang satu persatu.” ujarnya namun lebih mirip keluhan.
“Siapa?”
“Alex, Pippo, Bobo, Stefano, juga kawanku.”
Maldini tertawa sebelum menarik kursi di depan Ida.
“Kalau begitu, biar kutunggu mereka disini. Kau tidak keberatan?” tanyanya lembut. Lagi-lagi Ida cuma bisa menggeleng.
“Oh ya, aku Maldini. Siapa namamu?”
Lihat, Ida gugup sekali menyambut uluran tangan lelaki impiannya itu.
“Ida. I’m from Jakarta, Indonesia…” jawabnya. Maldini –atau biasa dipanggil Pepe- mengangkat alis keheranan.
“Ck … ck … ck … itu jauh sekali.” desisnya.
Sementara disini, aku tersenyum manis pada mereka yang telah membantuku mempertemukan Ida dengan Pepe. Ucapan “grazie” yang meluncur lirih dari bibirku dibalas anggukan Pippo, tawa kecil Bobo, kejapan mata Fafa dan tepukan lembut Alex. Sejurus kemudian aku kembali mengamati kedua makhluk yang masih beradu pandang itu. Come on, girl … say something! teriakku dalam hati.
“Kau wartawan?” Ida menggeleng,
“Holiday …” ujarnya ringan namun tak ayal menciptakan senyum tipis di bibir milik Pepe.
“Kau tak ingat sesuatupun?” lanjut Ida penasaran.
“Sorry… ?!”
“Surat, kartu, fax atau sejenisnya yang mengingatkanmu padaku.”
“Aku tidak mengerti …”
Hh … Ida mendesah, kelihatannya ia kecewa sekali.
“You’re my fave player. I like you so much, but you made me disappointed.” tuturnya tertahan. Hei, apa dia menangis?
“Maaf kalau aku sudah begitu mengecewakanmu. Tapi tolong, bicaralah dengan jelas. Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu.”
Ida tersenyum getir. Barangkali ia berfikir kalau semua surat-suratnya tak sampai ke tangan Pepe. Sambil mengatur nafas, ia mulai menceritakan semua hal yang berhubungan dengan hobby dan kegemarannya, perasaan hati dan impiannya, dengan kalimat yang lancar seakan mereka telah lama saling mengenal. Pepe-pun mendengarkan dengan serius sambil sesekali tertawa bila mimik Ida berubah. Sampai pada saat dimana sahabatku itu mulai putus asa karena tak satupun dari surat-suratnya berbalas hingga akhirnya ia pasrah dan tak mengharapkan kejadian apapun. Benar-benar dramatis, bisik Bobo. Aku mengangguk kecil…..
“Kau menempatkanku dengan istimewa sekali. Aku merasa beruntung …”
Ida tertawa. Ah, dia terlihat lebih rilex.
“Jangan begitu. Adrianalah wanita yang paling beruntung karena mendapatkan lelaki setia sepertimu. Juga Christian …”
Pepe menggeleng-gelengkan kepala ringan. Bias kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang sedikit gelap.
“Merekalah hartaku yang paling berharga. Oh ya, kurasa surat-suratmu memang belum sempat terbaca olehku, jadi bukan karena Adriana yang menyembunyikannya …”
Mereka tertawa lepas berbarengan. Ida sampai tersipu mendengar ucapan Pepe.
“Tidak … aku tidak berfikir seperti itu. Hh… kalau saja aku tahu bisa menemukanmu disini, aku pasti menyiapkan sesuatu untuk Christian.” sesalnya.
“Mereka tak menceritakannya?”
“Soal apa?”
“Lusa lalu Bobo menelfonku. Kami membuat janji disini. Kau juga tidak tahu soal itu?”
Ida menggeleng.
“”Wah, kurasa kita sudah dijebak.”
Saat itulah Pippo memberi isyarat agar kami keluar. Dan tawa keras Bobo membuat kedua orang itu berdiri. Ida malah memandangiku sambil cemberut, tapi kemudian ia menyambut dan memelukku erat.
“Kalian sudah merencanakan ini, ya?”
Kami tertawa berbarengan lalu secara bergantian mereka memeluk Pepe sekaligus mengucapkan permintaan maaf. Aku pribadi juga meminta maaf karena “memaksa” mereka melakukannya. Untunglah Pepe mau mengerti, bahkan berterima kasih karena mempertemukannya dengan seorang penggemar fanatik nun jauh disana.
“Ayolah, pesan makanan. Aku lapar, nih …” rengek Bobo hingga sang kapten memanggil pelayan dan memesankan menu yang spesial.
“Sepertinya hanya aku yang tidak mempunyai penggemar seperti kalian …” lanjutnya dengan menggaruk-garuk kepala sambil melirik kearah kiri dan kanannya. He..he..he.. lucu sekali.
“Ah, bagaimana kalau denganmu saja, Fafa?” Fafa terbelalak.
“Boleh juga.” sahutnya keras. Perbincangan menjadi semakin hangat saat hidangan datang, walau Ida menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Sering mataku menangkap tatapan hangatnya pada Pepe.
“Sepertinya aku harus kembali …” cetus sang kapten tiba-tiba setelah ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Secepat ini?” seru Ida gusar. Kami jadi saling pandang. Merasa ucapannya tak berkenan, Ida langsung berdehem kecil.
“Maksudku, kenapa kita tidak keluar bersama saja. Tak baik ‘kan tamu dibiarkan sampai ke mobil sendirian …”
Aku tersenyum simpul. Ngaco! Biasanya dia tak pernah “sebaik” ini.
“Tak apa. Maaf sekali aku tak mempunyai banyak waktu dan terima kasih atas undangan misterius ini.”
“Kapan kau mengundang kami kembali, kapten?” canda Bobo saat Maldini mengulurkan tangannya.
“Kapanpun kalian mau.”
“Kalau begitu sekarang saja!”
“Bobo!” seru Alex dan Pippo berbarengan.
“Aku tak serius, teman. Lihat, ada yang lebih memprihatinkan disana.”
Bobo benar. Ida kelihatan murung meski ia melemparkan senyum yang amat dipaksakan.
“Bagaimana ia tak akan sedih kalau harus ditinggalkan kakaknya?” ujar Pepe seraya merangkul sobatku hangat. Andai saja mereka melihat binar indah di matanya …
“Iya, Christian akan senang memiliki satu bibi lagi.” lanjut Pepe seakan tahu maksud dari gurat keraguan Ida. Gadis itu seperti terhipnotis dan tidak bisa berkata-kata. Bahkan saat Pepe mengalungkan sweater yang dikenakannya ke bahu Ida, menjabat tangannya erat, tak ada sepatah katapun yang keluar. Aku mengerti, semua terjadi begitu cepat hingga ia tak tahu harus sedih ataukah bahagia. Tapi sebelum Pepe berlalu, ia sempat menitipkan salam untuk Adriana dan Christian. Yang melegakan, Pepe berjanji akan “melacak” keberadaan surat-surat yang tercecer entah dimana. Sempurna sudah! Tapi … ah … Aku sendiri heran karena langkah-langkah mantap Pepe diiringi dengan lagu sendu Michael Learn To Rock yang mengalun lembut … You took my heart away ….
Kupikir ia akan menangis. Nyatanya, ia mengambil lima tangkai bunga dari vas yang ada di meja sebelah, lalu memberikannya satu persatu pada kami. How romantic …
“Aku tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih pada kalian. Ini benar-benar hebat!” serunya antusias.
“Datanglah ke Indonesia. Aku akan senang menjamu kalian.”
Aku tertawa ringan. Wah, mulai lagi.
“Jangan!” selaku cepat, “aku tak ingin kalian membuat gadis-gadis di negaraku saling cakar.” lanjutku lagi. Kami tertawa bersama, melanjutkan obrolan kecil sebelum kembali ke tempat masing-masing. Bobo bersama Pippo, sedang Alex dan Fafa mengantarkan kami ke hotel. Malam sudah agak larut saat kami dalam perjalanan. Aku duduk di depan bersama Alex sementara Fafa yang kelelahan sudah memejamkan mata di belakang. Ida? Hm… ia asyik dengan lamunannya sambil memeluk sweater biru yang kemudian dikenakannya. Kurasa ia tak bisa tidur malam ini.
“Semoga mimpi ini tak lekas berlalu …” gumanku lirih. Alex menoleh sesaat sambil melemparkan senyum manisnya.
“Terima kasih, ya …”
“Kau sudah mengucapkannya berulang kali, nona manis …”
“Iya, aku tahu. Tapi entahlah, rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup. Kalian membuat sahabat-sahabatku bahagia. Evelynne … Ida …”
“Lalu, bagaiman denganmu?”
“Aku? Tentu saja aku bahagia, Alex. Apalagi kalau kau juga bisa ceria terus seperti tadi.” sanggahku riang. Alex tertawa, menyibak rambut ikalnya dan mendesah pelan.
“Begitukah? Keadaanku mempengaruhimu?”
Aku mengangkat bahu.
“Ini antara kita saja, Alex. Boleh aku tahu sesuatu?”
“Tentang apa?”
“Hubunganmu dengan Sonia …”
Alex tak menjawab. Selama beberapa detik kami tak saling bicara.
“Kenapa aku terus didesak soal itu?”
“Mungkin karena sikapmu membingungkan.”
“Itu karena keduanya begitu berarti untukku. Aku tak ingin menyakiti salah satunya. Tak ada yang bisa mengerti soal itu. Lalu, bagaimana aku bisa bercerita?” desahnya lirih. Aku menatapnya dalam dan tersenyum tipis.
“Kau bisa menghubungiku kapanpun.”
Alex terdiam sesaat, menatapku tak berkedip lalu meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku terhipnotis sesaat lamanya, menikmati suasana paling romantis yang pernah kualami hingga saat ini.
“Aku tahu…..” balasnya lembut.
“Ternyata waktu tak membuatmu berubah. Akan banyak gadis yang patah hati …”
“Semoga itu bukan kau.” guraunya hingga akupun berdehem kecil.
“Lho, memangnya kenapa?”
“Karena tak akan ada lagi gadis yang bisa kuajak bertukar cerita. Denganmu aku merasa lain …, lebih bebas, terbuka … Entahlah, kita seperti tercipta dari bagian yang sama.” gumannya pelan, nyaris tak terdengar. Ucapannya membuat pandanganku menerawang. Mungkinkah?
“Aku juga tak mengerti, Alex. Jelaskan padaku, apa kau merasakan seperti apa yang kurasakan? Mencintai dengan cinta yang aneh. Memiliki tanpa pernah menyentuh, merasakan kehilangan sesuatu yang tak pernah ada?” cecarku berapi-api. Alex tak bisa menjawab. Ia seperti bingung sendiri. Sama seperti yang kurasakan. Cinta kami memang berbeda …
“Kau tahu, mungkin saja aku adalah dirimu dan kau adalah diriku.” cetusnya gamang. Bisa jadi. Kami satu bagian dengan gen yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa kami begitu dekat, tapi jauh. Ah, sampai kapanpun misteri kehidupan ini tak akan pernah terkuak. Aku tersenyum saat kulihat Ida sudah menyusul Fafa. Lelap …
Have a sweet dream, dude …………………………

FIN ~ see u on next story… ciao!!

………. in real story, Ida benar-benar mendapatkan balasan surat dari Paolo Maldini dengan note permohonan maaf karena suratnya tercecer sehingga baru sempat dibalas… dan itu terjadi beberapa minggu setelah Ida mendapatkan hadiah cerpen ini di ulang tahunnya… that’s a magic of prayer!!! ……….

in character :

me : aku sendiri, penggemar sepakbola, fans berat Juventus, especially Alessandro Del Piero (Alex), in story sebelumnya (Insya Allah postingannya menyusul) dah pernah ke Turin & dapat tumpangan gratis in Del Piero’s family casa. Ceritanya naksir Alex juga, tapi jaim.
Ida : sahabatku, penggemar sepakbola juga, Fans berat AC Milan, especially Paolo Maldini (Pepe), dan paling suka menyebut Alex dengan panggilan “Winnie the Pooh”
Alex : Pangeran Turin, Alessandro Del Piero…. ^_~
Fafa : Stefano Del Piero, kakak kandung Alex sekaligus Managernya.
Pippo : Filippo Inzaghi, striker AC Milan, saat cerpen ini dibuat, dia masih bermain untuk Juventus.
Bobo : Christian Vieri, waktu masih sama-sama di Juve mereka dijuluki “Tridente” karena kedekatan hubungan antara ketiganya.
Pepe : Paolo Maldini, il Capitano sejati klub AC Milan
Evelynne : sahabat penaku, pecinta berat Filippo Inzaghi.
Sonia : (sekarang) yang satu jadi istrinya Alex (Sonia Amoruso), dulu sempat ada 2 (dua) gadis bernama Sonia yang dikabarkan menjalin hubungan khusus dengan Alex.

January 13, 2009 - Posted by | Cerpen | , , , ,

2 Comments »

  1. bener ga c story-nya??

    hehehe

    Comment by dhestea_piero | January 31, 2009 | Reply

    • Storynya sih hanya imajinasi, tapi karakter2 yang ada didalamnya adalah “real”, termasuk kejadian diluar cerita dimana Ida benar2 mendapat balasan dari Paolo Maldini. Begitchu…🙂

      Comment by sweetiealessa | February 3, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: