sweetie alessa’s blog

~ ikhlas dan bersabarlah…. ~

ti amo (aku cinta) ~3~

“Maaf, anda salah tempat rupanya …” Ida mendongak dan ia hampir terlempar dari kursi saat melihat pemilik suara berat tadi. Sesosok pria tinggi, berambut ikal panjang yang sedikit berminyak dengan kaos ketat abu-abu dan sweater yang diikatkan di bahu jenjangnya tiba-tiba saja sudah berdiri di ujung meja. Ia mengerutkan alis saat melihat wajah Ida yang pucat.
“Ada apa…? Anda sakit?”
Ida menggeleng cepat, tapi itu tetap tak bisa menyembunyikan bias putih di wajahnya.
“Mm..Mm..Maldini …?” ujarnya tergagap. Lelaki itu mengangguk.
“My God!” desisnya tak percaya,
“Aku tidak mengerti maksudmu, tapi ini meja kami … “ lanjutnya lagi masih dengan suara bergetar. Lelaki, yang ternyata salah satu bek kiri terbaik dunia saat ini mulai ikut-ikutan gelisah. Ia menengok kiri-kanan, mencari sesuatu.

Continue reading

Advertisements

January 13, 2009 Posted by | Cerpen | , , , , | 2 Comments

ti amo (aku cinta) ~2~

Tepat pada hari yang kami tentukan, Alex dan Fafa sudah menungguku di depan penginapan. Mereka mengenakan pakaian yang hampir sama, jeans biru dan sweater berwarna cerah yang membalut badan mereka ketat. Fafa tak melepaskan sun glasses yang menutupi matanya. Ia melambaikan tangan saat kami melangkah turun dengan setengah berlari.
“Tak usah terburu-buru. Kita akan tiba tepat waktu.” ujar Alex saat aku tiba dengan nafas turun naik. Lumayan kalut, plus berdebar-debar! Ida tersenyum kecil dan itu membuatku senewen. Kacau, kenapa justru aku yang merasa panik?
Fafa mengambil tempat di belakang kemudi bersisian dengan Alex, sementara aku dan Ida duduk tenang di belakang. Kami berpandangan sambil tersenyum simpul.
“Katanya kawan-kawanmu akan ikut, Alex.” tukas Ida seakan tersadar bahwa sedari tadi tak ada orang lain. Hanya kami berempat.
“Seperti yang kau lihat. Hanya kakak tersayang pendamping setiaku.” jawabnya diplomatis. Huh, bohong!
“Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali bertemu mereka.” keluhnya tertahan. Aku menggigit bibir menahan tawa. Lihat saja bagaimana kau akan “tergeletak” nanti, sobat.
“Hei, kok diam … memikirkan apa nona cantik?” Ia menyenggol lenganku sambil mengangkat alis turun naik. Menggoda, barangkali …
“Ah, tidak apa-apa.” elakku halus.
“Apa selama ini dia selalu banyak bicara?” lanjut Alex sambil memiringkan tubuhnya agar dapat melihat kami. Aku memberi isyarat agar Ida tak berkomentar banyak atas pertanyaannya. Tapi aku keliru, karena sobatku itu sepertinya antusias sekali.
“Sangat! Terlebih untuk segala hal yang menyangkut dirimu. Dia bisa jadi berapi-api dan penuh semangat ’45!”
“What? Semangat apa?”
Ups! Ia tak akan mengerti dengan istilah “nasionalisme” kami itu.
“Forget it, Alex! Aku memang banyak bicara kalau ada hal-hal yang memerlukan perhatian khusus.” potongku sebelum Ida membuka mulut untuk menjelaskannya panjang lebar. Ia menatapku tajam.
“Kau selalu membuatnya bingung.” tegurnya keras. Matanya menatapku tajam seakan memaksaku untuk mendengarkannya.
“Aku tidak mengerti…” balasku tak kalah keras. Kali ini Ida menarik nafas panjang. Wah, pasti hal yang serius nih, pikirku tiba-tiba.
“Dengar ya … bagaimana Alex bisa berkata jujur kalau kau terus menerus mem-back up nya. Kau kan juga ingin tau ada masalah apa sampai-sampai Alex terikat dengan dua gadis yang sama-sama cantik dan sama-sama bernama Sonia. Iya ‘kan Fano?” rutuknya pelan. Fafa tertawa, mungkin karena mendengar kata-kata terakhir Ida. Tak urung aku dan Alexpun ikut tertawa … walau sedikit hambar.
“I’m sorry, pal. Aku tidak bermaksud seperti itu. Yah, setidaknya timbulkanlah kesan yang baik di awal perjumpaan kita. Kalau Alex memutuskan untuk menyimpan cerita tentang masalah pribadinya, aku setuju. Tidak semua hal bisa menjadi lebih baik dengan kita mengumbarnya ke publik. Oke?!” Ida mengangkat bahu. Kuharap ia mengerti karena aku tak ingin ada masalah yang timbul selama kami disini. Tak berapa lama Fafa menghentikan kendaraannya disebuah cafe yang letaknya sedikit terasing dari keramaian kota.

Continue reading

November 17, 2008 Posted by | Cerpen | , , , , | Leave a comment

ti amo (aku cinta) ~1~

(Cerita ini aku buat 14 Nov 2001… karena draftnya sudah nyaris hancur lebur dan sobek disana-sini, jadi karya ini aku prioritaskan untuk menjadi cerpen pertama yang aku publikasikan. Bagi yang menyukai sepakbola, pasti ga terlalu bingung dengan para tokoh pesepakbola didalamnya (hope so) , tapi yang tidak pun mudah-mudahan masih tetap dapat menikmatinya dengan keterbatasan penulisan, dan tenang saja.., karena akan ada sedikit gambaran para tokoh di akhir cerita.)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam. Hh … tak kusangka begitu cepat aku kembali ke tempat ini, bisik hatiku yang sudah berbunga-bunga sejak seminggu yang lalu, saat aku diperkenankan mengurus referensi kepindahanku bersama seorang teman. Ini liburan awal tahun yang menyenangkan, apalagi Fafa memintaku membawa banyak teman – yang kutahu tak boleh lebih dari dua orang – ketika aku menelponnya dan mengabarkan berita ini. Sepertinya ia merasa yakin kalau aku akan membawa gen sejenis. Dan itu benar. Kalau saja Evelynne tidak sedang dalam ujian akhirnya, kami pasti pergi bertiga. Nyatanya, wajah manis sahabatku itu dipayungi kesenduan. Bibirnya terkatup rapat dan aku tidak tahu apa matanya yang memerah akan mengeluarkan kristal bening saat aku dan Ida meniti tangga pesawat yang akan membawa kami ke Turin. Yang jelas, ada senyum manakala aku berjanji akan menyampaikan bingkisan cantiknya pada Pippo. Ah, sungguh disesalkan saat yang menyenangkan ini tak bisa kami lalui bersama.
“Bagaimana? Kau menghirup udara yang berbeda?” cetus Fafa dengan senyum menawannya yang menggoda. Ia seorang diri saja menjemput kami.
“Iya, sedikit lebih wangi …” balasku terkekeh karena harum Etienne menyusup masuk saat ia merangkulku barusan. Tak kusadari Ida yang setengah tersipu di sampingku kalau saja Fafa tak mengulurkan tangan menyapa. Awalnya mereka lebih banyak diam sampai kami tiba di hotel, namun beberapa menit sebelum Fafa pulang, keduanya terlibat pembicaraan yang hangat. Sengaja aku menolak saat Fafa menawarkanku untuk tinggal diapartemennya, karena berbagai pertimbangan tentunya. Untuk itulah kuputuskan menginap di hotel yang tidak terlalu mewah, namun terletak di lokasi yang strategis agar aku mudah mengurus surat-surat yang kuperlukan. Untunglah Fafa mau mengerti. Ia bahkan mengundang kami makan malam di sebuah restoran ekslusive.
“Perayaan …” elaknya ketika aku memprotes pilihan dahsyatnya ini. Dia berjanji Alex akan datang, karena berkali-kali Ida menuntut untuk dikenalkan pada adik tampannya itu. Oh ya, Ida memanggil Fafa dengan sebutan “Fano”, nama yang tidak seperti biasanya namun ternyata disukai Fafa. Konyol!

Continue reading

November 11, 2008 Posted by | Cerpen | , , , , | Leave a comment